1.
ZAMAN PRASEJARAH DAN ASAL-MUASAL PENGHUNI
GUMI SASAK
Banyak
peristiwa-peristiwa penting yang terjadi
di masa lain hingga hari ini, akan tetapi sebagian besar peristiwa-peristiwa
tersebut tidak dicatat atau ditulis. Pada masa tersebut mungkin orang belum
mengenal huruf atau budaya baca‑tulis sehingga tidak ada keterangan-keterangan
yang ditinggalkan secant tertulis. Sumber-sumber menjadi informasi adalah
penemuan benda‑benda arkeologis seperti penemuan tengkorak, tulang belulang manusia
purba, alat-alat -dan senjata.sederhana serta jejak jejak yang_pada
lingkungan alam (geologis). Masa itu disebut dengan zaman prasejarah. Sedangkan
masa setelah manusia mengenal tulisan sehingga berbagai peristiwa dapat
tercatat. Zaman itu disebut sebagai Banyak sebagai Banyak
peristiwa-peristiwa penting yang terjadi
di masa lain hingga hari ini, akan tetapi sebagian besar peristiwa-peristiwa
tersebut tidak dicatat atau ditulis. Pada masa tersebut mungkin orang belum
mengenal huruf atau budaya baca‑tulis sehingga tidak ada keterangan-keterangan
yang ditinggalkan secant tertulis. Sumber-sumber menjadi informasi adalah
penemuan benda‑benda arkeologis seperti peinuan tengkorak, tulang belulang manusia
purba, alat-alat -dan senjata.sederhana serta jejakjejak yang_pada
lingkungan alam (geologis). Masa itu disebut dengan zaman prasejarah. Sedangkan
masa setelah manusia mengenal tulisan sehingga berbagai peristiwa dapat
tercatat. Zaman itu disebut sebagai zaman sejarah.
Kehidupan
nenek moyang Gumi Sasak pada zaman prasejarah sangat menarik untuk dipelajari
serta memiliki ciri khas yang berbeda
dengan suku-suku lainnya di Indonesia. Kekhasan tersebut dapat terlihat dari
struktur dan model budaya yang kini berkembang. Berbagai penemuan-penemuan yang
diperoleh oleh masyarakat belum mendapatkan jawaban karena rnemang belurn
dilakukannya penelitian dengan menggunakan teknologi tingkal tinggi, seperti
radioisotop.
Sampai
saat ini, sumber informasi yang dapat dijadikan sebagai kajian tentang
perjalanan orang-orang Sasak sejak eksisnya di pulau Lombok adalah (1)
cerita-cerita rakyat, (2) babad lontar, (3) barang-barang peninggalan masa
lain, (4) basil penemuan artefak/bukti arkeologis lainnya. Cerita-cerita rakyat
dan babad lontar memang belum bisa dijadikan sebagai acuan untuk mengetahui
tentang kebenaran sebuah peristiwa dalam sejarah.
Penemuan-penernuan
di Gunung Piring, desa Truwai kecamatan Pujut, Lombok Selatan oleh Proyek
Penggalian dan Penelitian Purbakala Jakarta pada tahun 1976 M sedikit banyak
memberikan gambaran tentang tata cara hidup serta sumber bahan makanan
masyarakat suku Sasak masa lampau.
Adapun Penemuan-penemuan tersebut berupa periuk
utuh, kereweng, kerangka manusia, sisa kulit kerang, aranr fragmen logam dan
binatang. Selain penemuan arkeologis tersebut, juga ditemukan Area Budha
Awalokiteswara, nekara dan berupa nisan yang berhurup Cina dan Arab.
Penemuan-penemuan tersebut memberikan sinyalemen bahwa pada masyarakat suku
Sasak masa lampau telah menjalin hubungan yang intens dengan dunia luar. Dan
penemuan benda-benda purbakala di Lombok Selatan dapat di simpulkan bahwa
kira-kira pada akhir zaman perunggu pulau Lombok bagian selatan telah dihuni
oleh sekelompok manusia yang sama kebudayaannya dengan penduduk ; (1) di Gua
Tabon Vietnam Selatan, (2) Penduduk di Pulau Pallawan-Filipina, (3) Penduduk di
Gilimanuk Bali, (4) Penduduk di Malielo-Sumba. Menurut Drs. M.M. Sukarto dan
Prof Solheim, guru besar di Universitas Hawai, kebudayaan di Gunung Pining itu
termasuk ke dalam Shan Hays Kalanny Tradition Umum diketahui bahwa
manusia purba di Indonesia merupakan jenis homo
sapiens.Terdapat dua ras homo sapiens
yang terdapat di Indonesia, yaitu ras Mongoloid dan Austromelanesoid.
Adapun penyebaran kedua ras tersebut:
1.Ras Mongoloid, khusus sub ras
NIelayu-Indonesia, tersebar di sebagain besar wilayah Indonesia terutama
Indonesia yang terletak di bagian Barat dan Selatan antara lain Sumatera, Jawa,
Bali, dan Lombok
2.
Ras Austromelanesnai, tersebar
di wilayah Indonesia bagian timur terutarna Irian jaya dan pulau-pulau
sekitarnya Nenek Moyang suku bangsa Indonesia menyusuri lembah-lembah sungai di
Vietnam dan Thailand sampai di Semenanjung Malaya. Kemudian dengan menggunakan
perahu bercadik mereka datang ke. Nusantara mendarat di Sumatera, Jawa,
Kalimantan Barat, Bali Nusa Tenggara termasuk Lombok sampai ke Flores dan
Sulawesi Selatan.
Berdasarkan
penjelasan di atas, rnaka penghuni suku di Pulau Lombok berasal dari Asia
Tenggara. Adapun kemudian penduduk pendatang Nusantara berasal dari Bali,
Sulawesi Selatan, Jawa, Kalimantan. Sumatera, Maluku dan Nusa Tenggara Timur.
B. KEHIDUPAN ZAMAN PRASEJARAB DI GUMI SASAK
Salah
satu petunjuk tentang kehidupan masa lampau adalah peninggalan-peninggalan
termasuk peninggalan berupa jejak geologis yang dapat diamati pada bentangan
alam. Lokasi Belongas, Sekaroh dan lokasi sekitarnya merupakan wilayah berbatu
kapur yang kini kurang subur dan
ditumbuhi semak-semak lantana. Ketidak suburan ini karena disebabkan oleh
kebiasaan nenek moyang suku Sasak pada masa meramu yang biasa berpindah‑pindah.
Dengan demikian, nenek moyang suku Sasak pada awalnya hidup berpindah-pindah
dari satu tempat ke ternpat lainnya untuk mengumpulkari bahan
makanan dari hewan dan turnbuhan.Kemudian pada tahap selanjumya nenek rnoyang
suku Sasak bermukim (bertempar
tinggal ) secara berkelornpok. Hidupnya sudah lebih teratur dan membentuk pola-pola kepemimpinan
di tempat tinggalnya. Pemukiman masyarakat zaman prasejarah dibagi menjadi
yaitu pemukiman di daerah pantai dan pemukiman di daerah pedalaman.
1.
Pernukirnan
di Daerab Pesisir Pantai.
Nenek
moyang kita yang tinggal di pesisir pantai mengambil makanan dari pantai dan
laut. Bukti tentang keberadaannya adanya slat yang ditemukan seperti jaring
(kerakat), alat penangkap cumi-cumi dan adanya sisa kerang
2.
Pemukiman
di Daerah Pedalaman
Nenek
moyang kita yang tinggal di daerah pedalaman (hutan) mengambil bahan makanannya
dari hutan maupun sungai-sungai yang ada di dalam hutan. Adapun jenis alat yang
telah ditemukan dan kini disimpan di Museum NTB yaitu alat-alat berburu seperti
tombak, jaring, kodong rpm untuk menangkap udang, kodong knelling dan
sebagainya. Kodong Ipin adalah alat yang dipergunakan untuk menangkap udang
sedangkan kodong lindung adalah alat yang dipergunakan untuk menangkap belut
.
C. SISTEM
KEPERCAYAAN
Kehidupan
menetap Menimbulkan ikatan antara manusia dengan alam sekitarnya. Dengan
demikian nenek moyang orang Sasak (Lombok) percaya bahwa setiap benda memiliki
roh disebut animisme. Bukti nenek moyang orang Sasak percaya adanya roh-roh
nenek moyang adalah penemuan situs penguburan di Gunung Piring yang berada di
daerah perbukitan. Menurut mereka, di bukit-bukit yang tinggi tersebutlah roh
nenek moyang bersemayarn. Selain itu mereka percaya bahwa setiap benda memiki
kekuatan ghaib. Oleh sebab itu, mereka menyembah dan memuja roh-roh agar tidak
terjadi bencana alam.
Salah
satu alat upacara yang dipergunakan oleh nenek moyang orang Sasak adalah
nekara. Hal ini terbukti dengan adanya penemuan nekara di desa Pringgabaya pada
tahun 1999. Akan tetapi sangat di sayangkan bahwa nekara tersebut rusak pada
saat penggalian materi baru di wilayah tersebut. Nekara yaitu semacam tambuh
besar,bentuknya seperti dandang terbalik dan di jadikan sebagai benda pusaka,di
anggap suci dan di puja pada waktu mengikuti kegiatan upacara.
Seiring
dengan semakin banyaknya pengaruh dari luar,maka integrasi kepercayaan lokal
dengan luar menimbulkan adanya sinkretisme dalam ajaran-ajaran yang telah di
anut sehingga muncul system kepercayaan yang di sebut Boda.Boda merupakan
anasir atau unsur dari kepercayaan animisme (percaya bahwa segala sesuatu
mempunyai roh),dinamisme (percaya bahwa semua makhluk memiliki kekuatan
ghaib),Antropormisme (pengenaan cirri-ciri manusia pada binatang atau benda
mati) dan politeisme (percaya terhadap banyak tuhan ). Pengaruh sinkretisme di
dalam kepercayaan ini, bahkan sampai pertengahan abad ke 20 masih mempercayai
adanya kekuatan makhluk supernatural. Kepercayaan antara lain:
1. Betara guru yaitu raja dewadewa yang
menurunkan raja-raja Lombok
2. Bidadari yaitu sebangsa dewi yang hidup di
madya antara awing-awang.
3. Beboro’ yaitu sebangsa hantu yang berkeliaran
bila mabrib tiba,terutama pada malam jumat.Itulah sebabnya pada saat itu, anak-anak
di larang bermainmain. Ia suka menyembunyikan anak kecil yang di beri makan
ulat.Untuk menemukannya di pukulkan parang buntung.
4.
Bake’ juga sebangsa hantu yang sangat jahat
membuat manusia sakit. Tempat tinggalnya di hutan,batubatu besar dan pohon kayu
rindang
5.
Belata’,sama
halnya dengan bake’hanya perbedaanya belata makan orang.
6.
Bebai sejenis makhluk halus kecil,tidak
semua orang dapat melihatnya. Bebai di pelihara oleh selak
7.
Sela’ sebenarnya bukanlah makhluk halus melainkan manusia
biasa. Seorang dapat menjadi sela’ di sebabkan memiliki ilmu sejenis sihir.
Oleh sebab itu,ia dapat menjadi sesuatu sesuai kehendaknya. Ada juga orang
menjadi sela’karena keturunan,demikian juga orang yang beristrikan sela’,maka
ia menjadi sela’. Jika sela’ ada dua yaitu:
a.
Sela’beleq: kekuatan lebih besar dan lebih hebat
dalam menghancurkan kekuatan lawan umumnya memakan bangkai dan kotoran manusia.
b.
Sela’ bunga: hidupnya di angkasa dan selalu
mencari musuh di malam hari. Sela’bunga tidak memakan makanan yang kotor
seperti halnya sela’beleq.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar