Minggu, 15 September 2024

GUMI SASAK PADA MASA PRASEJARAH

 

1.    ZAMAN PRASEJARAH DAN ASAL-MUASAL  PENGHUNI GUMI  SASAK

Banyak peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di masa lain hingga hari ini, akan tetapi sebagian besar peristiwa-peristiwa tersebut tidak dicatat atau ditulis. Pada masa tersebut mungkin orang belum mengenal huruf atau budaya baca‑tulis sehingga tidak ada keterangan-keterangan yang ditinggalkan secant tertulis. Sumber-sumber menjadi informasi adalah penemuan benda‑benda arkeologis seperti penemuan tengkorak, tulang belulang manusia purba, alat-alat -dan senjata.sederhana serta jejak jejak yang_pada lingkungan alam (geologis). Masa itu disebut dengan zaman prasejarah. Sedangkan masa setelah manusia mengenal tulisan sehingga berbagai peristiwa dapat tercatat. Zaman itu disebut sebagai Banyak sebagai Banyak peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di masa lain hingga hari ini, akan tetapi sebagian besar peristiwa-peristiwa tersebut tidak dicatat atau ditulis. Pada masa tersebut mungkin orang belum mengenal huruf atau budaya baca‑tulis sehingga tidak ada keterangan-keterangan yang ditinggalkan secant tertulis. Sumber-sumber menjadi informasi adalah penemuan benda‑benda arkeologis seperti peinuan tengkorak, tulang belulang manusia purba, alat-alat -dan senjata.sederhana serta jejakjejak yang_pada lingkungan alam (geologis). Masa itu disebut dengan zaman prasejarah. Sedangkan masa setelah manusia mengenal tulisan sehingga berbagai peristiwa dapat tercatat. Zaman itu disebut sebagai zaman sejarah.

Kehidupan nenek moyang Gumi Sasak pada zaman prasejarah sangat menarik untuk dipelajari serta memiliki ciri khas yang   berbeda dengan suku-suku lainnya di Indonesia. Kekhasan tersebut dapat terlihat dari struktur dan model budaya yang kini berkembang. Berbagai penemuan-penemuan yang diperoleh oleh masyarakat belum mendapatkan jawaban karena rnemang belurn dilakukannya penelitian dengan menggunakan teknologi tingkal tinggi, seperti radioisotop.

Sampai saat ini, sumber informasi yang dapat dijadikan sebagai kajian tentang perjalanan orang-orang Sasak sejak eksisnya di pulau Lombok adalah (1) cerita-cerita rakyat, (2) babad lontar, (3) barang-barang peninggalan masa lain, (4) basil penemuan artefak/bukti arkeologis lainnya. Cerita-cerita rakyat dan babad lontar memang belum bisa dijadikan sebagai acuan untuk mengetahui tentang kebenaran sebuah peristiwa dalam sejarah.

Penemuan-penernuan di Gunung Piring, desa Truwai kecamatan Pujut, Lombok Selatan oleh Proyek Penggalian dan Penelitian Purbakala Jakarta pada tahun 1976 M sedikit banyak memberikan gambaran tentang tata cara hidup serta sumber bahan makanan masyarakat suku Sasak masa lampau.

Adapun Penemuan-penemuan tersebut berupa periuk utuh, kereweng, kerangka manusia, sisa kulit kerang, aranr fragmen logam dan binatang. Selain penemuan arkeologis tersebut, juga ditemukan Area Budha Awalokiteswara, nekara dan berupa nisan yang berhurup Cina dan Arab. Penemuan-penemuan tersebut memberikan sinyalemen bahwa pada masyarakat suku Sasak masa lampau telah menjalin hubungan yang intens dengan dunia luar. Dan penemuan benda-benda purbakala di Lombok Selatan dapat di simpulkan bahwa kira-kira pada akhir zaman perunggu pulau Lombok bagian selatan telah dihuni oleh sekelompok manusia yang sama kebudayaannya dengan penduduk ; (1) di Gua Tabon Vietnam Selatan, (2) Penduduk di Pulau Pallawan-Filipina, (3) Penduduk di Gilimanuk Bali, (4) Penduduk di Malielo-Sumba. Menurut Drs. M.M. Sukarto dan Prof Solheim, guru besar di Universitas Hawai, kebudayaan di Gunung Pining itu termasuk ke dalam Shan Hays Kalanny Tradition Umum diketahui bahwa manusia purba di Indonesia merupakan jenis homo sapiens.Terdapat dua ras homo sapiens yang terdapat di Indonesia, yaitu ras Mongoloid dan Austromelanesoid. Adapun penyebaran kedua ras tersebut:

1.Ras Mongoloid, khusus sub ras NIelayu-Indonesia, tersebar di sebagain besar wilayah Indonesia terutama Indonesia yang terletak di bagian Barat dan Selatan antara lain Sumatera, Jawa, Bali, dan Lombok

2. Ras Austromelanesnai, tersebar di wilayah Indonesia bagian timur terutarna Irian jaya dan pulau-pulau sekitarnya Nenek Moyang suku bangsa Indonesia menyusuri lembah-lembah sungai di Vietnam dan Thailand sampai di Semenanjung Malaya. Kemudian dengan menggunakan perahu bercadik mereka datang ke. Nusantara mendarat di Sumatera, Jawa, Kalimantan Barat, Bali Nusa Tenggara termasuk Lombok sampai ke Flores dan Sulawesi Selatan.

Berdasarkan penjelasan di atas, rnaka penghuni suku di Pulau Lombok berasal dari Asia Tenggara. Adapun kemudian penduduk pendatang Nusantara berasal dari Bali, Sulawesi Selatan, Jawa, Kalimantan. Sumatera, Maluku dan Nusa Tenggara Timur.

 

B. KEHIDUPAN ZAMAN PRASEJARAB DI GUMI SASAK

Salah satu petunjuk tentang kehidupan masa lampau adalah peninggalan-peninggalan termasuk peninggalan berupa jejak geologis yang dapat diamati pada bentangan alam. Lokasi Belongas, Sekaroh dan lokasi sekitarnya merupakan wilayah berbatu kapur yang kini kurang subur dan ditumbuhi semak-semak lantana. Ketidak suburan ini karena disebabkan oleh kebiasaan nenek moyang suku Sasak pada masa meramu yang biasa berpindah‑pindah. Dengan demikian, nenek moyang suku Sasak pada awalnya hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke ternpat lainnya untuk mengumpulkari bahan makanan dari hewan dan turnbuhan.Kemudian pada tahap selanjumya nenek rnoyang suku Sasak bermukim (bertempar tinggal ) secara berkelornpok. Hidupnya sudah lebih  teratur dan membentuk pola-pola kepemimpinan di tempat tinggalnya. Pemukiman masyarakat zaman prasejarah dibagi menjadi yaitu pemukiman di daerah pantai dan pemukiman di daerah pedalaman.

1.         Pernukirnan di Daerab Pesisir Pantai.

Nenek moyang kita yang tinggal di pesisir pantai mengambil makanan dari pantai dan laut. Bukti tentang keberadaannya adanya slat yang ditemukan seperti jaring (kerakat), alat penangkap cumi-cumi dan adanya sisa kerang

2.         Pemukiman di Daerah Pedalaman

Nenek moyang kita yang tinggal di daerah pedalaman (hutan) mengambil bahan makanannya dari hutan maupun sungai-sungai yang ada di dalam hutan. Adapun jenis alat yang telah ditemukan dan kini disimpan di Museum NTB yaitu alat-alat berburu seperti tombak, jaring, kodong rpm untuk menangkap udang, kodong knelling dan sebagainya. Kodong Ipin adalah alat yang dipergunakan untuk menangkap udang sedangkan kodong lindung adalah alat yang dipergunakan untuk menangkap belut

.

C. SISTEM KEPERCAYAAN

Kehidupan menetap Menimbulkan ikatan antara manusia dengan alam sekitarnya. Dengan demikian nenek moyang orang Sasak (Lombok) percaya bahwa setiap benda memiliki roh disebut animisme. Bukti nenek moyang orang Sasak percaya adanya roh-roh nenek moyang adalah penemuan situs penguburan di Gunung Piring yang berada di daerah perbukitan. Menurut mereka, di bukit-bukit yang tinggi tersebutlah roh nenek moyang bersemayarn. Selain itu mereka percaya bahwa setiap benda memiki kekuatan ghaib. Oleh sebab itu, mereka menyembah dan memuja roh-roh agar tidak terjadi bencana alam.

Salah satu alat upacara yang dipergunakan oleh nenek moyang orang Sasak adalah nekara. Hal ini terbukti dengan adanya penemuan nekara di desa Pringgabaya pada tahun 1999. Akan tetapi sangat di sayangkan bahwa nekara tersebut rusak pada saat penggalian materi baru di wilayah tersebut. Nekara yaitu semacam tambuh besar,bentuknya seperti dandang terbalik dan di jadikan sebagai benda pusaka,di anggap suci dan di puja pada waktu mengikuti kegiatan upacara.

Seiring dengan semakin banyaknya pengaruh dari luar,maka integrasi kepercayaan lokal dengan luar menimbulkan adanya sinkretisme dalam ajaran-ajaran yang telah di anut sehingga muncul system kepercayaan yang di sebut Boda.Boda merupakan anasir atau unsur dari kepercayaan animisme (percaya bahwa segala sesuatu mempunyai roh),dinamisme (percaya bahwa semua makhluk memiliki kekuatan ghaib),Antropormisme (pengenaan cirri-ciri manusia pada binatang atau benda mati) dan politeisme (percaya terhadap banyak tuhan ). Pengaruh sinkretisme di dalam kepercayaan ini, bahkan sampai pertengahan abad ke 20 masih mempercayai adanya kekuatan makhluk supernatural. Kepercayaan antara lain:

1.     Betara guru yaitu raja dewadewa yang menurunkan raja-raja Lombok

2.     Bidadari yaitu sebangsa dewi yang hidup di madya antara awing-awang.

3.     Beboro’ yaitu sebangsa hantu yang berkeliaran bila mabrib tiba,terutama pada malam jumat.Itulah sebabnya pada saat itu, anak-anak di larang bermainmain. Ia suka menyembunyikan anak kecil yang di beri makan ulat.Untuk menemukannya di pukulkan parang buntung.

4.     Bake’ juga sebangsa hantu yang sangat jahat membuat manusia sakit. Tempat tinggalnya di hutan,batubatu besar dan pohon kayu rindang

5.     Belata’,sama halnya dengan bake’hanya perbedaanya belata makan orang.

6.     Bebai sejenis makhluk halus kecil,tidak semua orang dapat melihatnya. Bebai di pelihara oleh selak

7.     Sela’ sebenarnya bukanlah makhluk halus melainkan manusia biasa. Seorang dapat menjadi sela’ di sebabkan memiliki ilmu sejenis sihir. Oleh sebab itu,ia dapat menjadi sesuatu sesuai kehendaknya. Ada juga orang menjadi sela’karena keturunan,demikian juga orang yang beristrikan sela’,maka ia menjadi sela’. Jika sela’ ada dua yaitu:

a.         Sela’beleq: kekuatan lebih besar dan lebih hebat dalam menghancurkan kekuatan lawan umumnya memakan bangkai dan kotoran manusia.

b.        Sela’ bunga: hidupnya di angkasa dan selalu mencari musuh di malam hari. Sela’bunga tidak memakan makanan yang kotor seperti halnya sela’beleq.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Maeningful learning

 Sedangkan menurut Herliani, langkah-langkah yang umumnya dilakukan untuk menerapkan meaningful learning Ausubel atau belajar bermakna adala...