Senin, 09 Agustus 2021

MASUKNYA AGAMA ISLAM DI GUMI SASAK

A. GUMI SASAK SEBAGAI PUSAT PERDAGANGAN

Sejak abad ke 13 Masehi Labuan Lombok banyak dikunjungi para pedagang yang berasal dari Jawa, Palembang, Banten, Gresik dan Sulawesi. Dengan demikian agama Islam mulai merasuki Lombok. Mula-mula kedatangan mereka untuk berdagang, kemudian banyak, diantara mereka yang bertempat tinggal dan menetap, bahkan mendirikan perkarnpungan-perkampungan. Bukti konkritnya adalah, sampai sekarang masih dapat kita lihat bekas-bekasnya seperti perkampungan Bugis di Labuan Lombok.

Ketika  perdagangan rempah-rempahnberkembang pesat pada abad ke-14, di Bali dan Lombok sudah berkembang perdagangan sarung yang diangkut oleh kapal-kapal data Gresik. Pedagang-pedagang muslim telah melakukan pelayaran dan perdagangan di sepanjang pantai utara pulau Jawa, selat Madura, pesisir timur pulau Lombok, pulau-pulau Sunda Kecil hingga ke Maluku. melalui saluran perdagangan tersebut terbawa pula kitab-kitab kesusateraan yang bernafaskan agama Islam seperti Roman Yusuf dan Serat Menak. Selain itu juga mereka membawa Al Qur'an untuk mengaji di tempatnya masing-masing.

Kemudian terjadilah hubungan yang intens antara para pendatang dengan masyarakat suku Sasak. Dan hubungan tersebut timbul rasa Saling menghormati dan menghargai. Sadar atau tidak sadar terjadilah inkulturasi dalam berbagai bidang seperti budaya dan agama; yang dianggap bail dan cocok diterima, sedangkan yang tidak cocok ditinggalkan.

B. MASUK DAN BERKEIMBANGNYA AGAMA ISLAM

Agama Islam masuk di Bumi Selaparang tidak lama setelah runtuhnya kerajaan Majapahit. Keruntuhan Kerajaan Majapahit sendiri lebih disebabkan oleh beberapa faktor (1) tindakan Gadjah mada yang memborong segala kekuasaan dan tidak mendidik kader-kadernya, (2) adanya perang Paregreg sehingga menimbulkan kelemahan di kalangan pemerintahan di pusatnya, (3) penyerangan Girindrawardana data Medang Kemulan, (4) masuk dari berkernbangnya Islam di Nusantara. Pada waktu itu sudah ada pedagang-pedagang muslim yang bermukim data berniaga di Lombok kemudian mereka menyebarkan agamanya. Bukti yang paling eksplisit menjelaskan kedatangan Islam di Lombok adalah Babat Lombok yang menjelaskan bahwa Sunan Ratu Giri memerintahkan raja-raja Jawa Timur dan Palembang untuk menyebarkan Islam ke Indonesia bagjan utara yaitu (1) Lemboe Mangkurat dengan pasukannya dikirim ke Banjar, (2) Datu Bandan dikirim ke Selayar, Makassar, Tidore dan Seram, (3) Raja Pangeran Perapen mengirim anak laki-lakinya umuk berlayar menyiarkan Islam Ire Bali, Lombok, dan Sumbawa.

Menurut Faille, setelah pasukan pangeran Prapen mendarat dan turun dari kapal, dengan sukarela raja Lombok memeluk Agama Islam. Tetapi rakyatnya tetap menolak sehingga terjadi peperangan yang dimenangkan oleh pihak Islam. Pendapat lain menyebutkan bahwa awal mulanya Raja Lombok meenolak kedatangan Islam, namun setelah Pangeran Prapen menjelaskan maksudnya yaitu untuk menyampaikan misi suci dengan cara damai maka beliaupun diterima dengan baik, tetapi karena hasutan rakyatnya kernudian Raja Lombok ingkar janji dan mempersiapkan pasukan sehingga terjadilah peperangan. Dalam peperangan itu, Raja Lombok terdesak dan melarikan diri. Tetapi malang jayalengkara berhasil menangkap raja, lain dibawa menghadap ke Pangeran Perapen. Beliau kernudian diampuni dan mengucapkan dua kalimah syahadat serta dikhitan. Masjid pun segera dibangun sedangkan Pura, Meru, Babi, dan Sanggah dimusnalikan. Seluruh rakyat diislamkan dan dikhitan. Kecuali kaum wanira, penghitanannya ditunda atas permintaan Syahbandar Lombok.

Setelah berhasil mengislamkan Raja Lombok, Sunan Perapen dcngan pasukannya rnengislamkan kedatuan kedatuan lainnya seperti Pejanggil, Langko, Parwa, Sarwadadi, Bayan, Sokong dan Sasak (Lombok Utara). Hal ini memiliki bukti-bukti adanya tinggalan arkeologi seperti mesjid-mesjid tua, makam-makam kuno dan sebagainya. Dalam mengislamkan kedatuan-kedatuan lainnya, sebagiannya masuk Islam dengan sukarela sebagian lagi masuk Islam dengan cara kekerasan seperti di Parigi dan Sarwadadi. Setelah itu beberapa tahun kemudian seluruh Lombok memeluk agama Islam, kecuali Pajarakan dan Pengantap.

Perkembangan Islam yang sedemikian cepat ini disebabkan beberapa faktor; (1) Agama Islam dianggap demokratis, (2) Ajaran Islam bukan merupakan ajaran yang asing lagi karena sudah lebih dahulu bercampur dengan anasir India, (3) Penyebarannya berjalan secara damai karma rnelalui perdagangan dan perkawinan, (4) Adanya kekosongan pegangan rohani rakyat akibat kemunduran Majapahit, (5) Kegiatan para guru agama, ulama dan wali yang dianggap memberi manfaat yang nyata bagi kehidupan inasyarakat.

 

 

 

C.        SUNAN  PRAPEN  KEMBALI  KE  LOMBOK

Sesuai dengin misi yang diemban dari Ratu Sultan Giri, maka setelah mengislamkan kerajaan-kerajaan lainnya di pulau Lombok. Sunan Prapen melanjutkan penyebaran Islam ke Sumbawa, Dompu dan Bima. Sepeninggal Sunan Perapen, keadaan agama Islam di Lombok sangat menyedihkan karena kaum wanitanya rnenolak memeluk agama yang baru itu. Hal ini sangatlah beralasan karena masih kuatnya pengaruh agama sebelurnnya dan juga adanya pengaruh kekuasaan Karangasem di Bali sebagai kerajaan yang kuat dan tangguh.

Akibat timbulnya permasalahan ini kemudian Sunan Prapen kembali lagi dan mendarat di Lombok melalui Sugian untuk menyerang penduduk yang masih kafir. Dalam penyerangan ini penduduk Lombok terpecah rnenjadi 3 (tiga bagian yaitu (1) kelompok yang melarikan diri dan mengungsi ke gunung-gunung lalu masuk hutan, mereka dikenal sebagai Orang Boda, (2) Kelompok yang takluk dan masuk Islam dikenal sebagai Waktu Lima, (3) Kelompok yang hanya takluk di bawah kekuasaan Sunan Perapen dikenal sebagai Penganut Wetu Telu.

Rencana Sunan Perapen untuk mengislamkan Pulau Bali terpaksa ditunda karena mendapat perlawanan dari Dewa Agung Gelgel yaitu Dewa Agung Baru Renggong yang pada pertengahan abad ke-16 berusaha membendung penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh orang-orang jawa dari arah barat maupun orang-orang Makasar dari arah Timur. Oleh sebab itu, pengaruh Kerajaan Gelgel di bagian barat pulau Lombok yang besar sehingga Sunan Prapen mendarat di pantai timur (Labuan Lombok).

D.       PENYEBARAN AGAMA ISLAM DI BEBERAPA TEMPAT

1. Penyebaran Islam di Bayan

Sekitar abad ke-16, penyebaran agama Islam juga masuk melalui pantai utara Bayan dan dari arah barat sekitar Tanjung. Pembawanya adalah seorang Syeikh dari Arab Saudi bernama Nurul Rasyid dengan gelar sufinya Gaoz Abdul Razak, makamnya terletak di kampung Kuranji, sebuah desa pantai di barat daya Lombok. Gaoz Abdul Razak mendarat di Lombok bagian utara yang disebut dengan Bayan. Ia pun menetap dan berdakwah di sana. Beliau mengawini Denda Bulan yang melahirkan se6rang anak bernama Zulkarnaen. Keturunan inilah yang menjadi cikal bakal raja-raja Selaparang. Kemudian Gaoz Abdul Razak mengawini lagi Denda Islamiyah yang melahirkan Denda Qomariah yang populer dengan sebutan Dewi Anjani.

Sunan Pengging, pengikut Sunan Kalijaga datang ke Lombok pada tahun 1640 untuk menyiarkan agama Islam (sufi). la kawin dengan putri dari kerajaan Parwa sehinggga meninbulkan kekecewaan raja Goa. Selanjutnya, raja Goa menduduki Lombok pada tahun 1640.

Sunan Pengging dikenal sebagai Pangeran Mangkuburni lari ke Bayan. Salah satu bukti yang dapat dijadikan sebagai kajian tentang awal penyebaran agama Islam adalah Mesjid Kuno Bayan Bele.

2. Islam di Pujut

Salah sant bukti yang paling konkrit penyebaran Islam di daerah Pujut adalah masjid kuno Rembitan. Bangunan ini merupakan prototipe mesjid-mesjid tua. Secara kronologis diperkirakan dibangun sekitar abad km 16. Tokoh legendaris penyebar Agarna Islam di daerah ini adalah wali Nyatok. Mesjid di Rembitan sering dikaitkan dengan tokoh Wali Nyatok. Dalarn tradisi lisan Wali Nyatok dikenal sebagai penyebar Agarna Islam di Lombok bagian selatan dan sekitarnya. Narna lain Wali Nyatok adalah Sayid Ali atau Sanid Abdurrahman. Sayang sekali pada batu nisannya tidak ada inskripsi yang menyebut nama tokoh tersebut, meskipun dari segi tipologi nisan tersebut tergolong tua.

Salah sani tokoh legendaris lainnva dalam penyebaran agama Islam adalah Pangeran Sangupati. Beberapa pendapat tentang Pangeran Sangupati sebagai berikut:

1. Pangeran Sangupati adalah putra Selaparang yang dianggap Waliyullah, ia mengarang kitab

jatistiswara, Prembonan, Lampanan wayang, Tasawuf dan Fiqh.

2.         Pangeran Sangupati berasal dari Jawa yang sengaja berkelana untuk menyebarkan Agarna Islam dan memiliki nama asli di jawa "Aji Datu Semu", sedangkan, di Sumbawa dikenal dengan nama Tuan Semeru.

3.       Pangeran Sangupati adalah tokoh agama Hindu yang menyebarkan agama Hindu di kalangan ummat Islam karena Islam yang dianut oleh para penduduk masih sangat lemah, maka beliau menyebarkan agama Islam Waktu Telu (Wein Telu) suatu bentuk peralihan dari agama Boda tua ke agama Waktu Lima dart dia dikenal dengan nama Pedanda Wau Rauh.

Selain tokoh-tokoh tersebut ada juga yang disebut-sebut sebagai penyebar agama Islam di Lombok yaitu Al-Fadal.

 

E. MUNCULNYA ISLAM WETU TELU

Islam Waktu Telu adalah sistem kepercayaan sinkretik hasil saling silang ajaran Islam, Hindu, dan unsur Animisme dan

Antropomorfisme (Buda). Komunitas Islam Waktu Telu adalah segolongan minoritas dari etnis Sasak penganut sistem kepercayaan sinkretik hasil saling silang ajaran tersebut. Tawalinuddin Harts,2002, menyatakan adanya sinkretisme semacarn itu tercermin pula pada sejumlah lontar yang ditemukan di Lombok. Banyak diantara lontar tersebut yang dimulai dengan lafal "Bismillah" tapi selanjutnya memberikan ajaran yang jelas-jelas berdasarkan filsafat Hindu dan Budha. Oleh karena itu, mungkin ada benarnya juga ketikaVogellaesang mengatakan bahwa Islam Waktu Telu adalah Agama Majapahit (Hindu dan Budha) yang sudah dibalut dengan ajaran Islam.

Sinkretisme ini juga terjadi pada orang-orang Bali yang tinggal di Lombok, baik dalam hal bahasa, berpakaian balikan dalam kegiatan keagamaan. Dalam sebuah upcara di Pura (odalan) misalnya, terdapat tembang "Turun Taun" yang biasanya ditembangkan oleh orang-orang tua etnis Bali dilombok seperfi: "Miaq sunggar siq galih belimbing, lolon waru sedin langan. Silaq lumbar kaji ngiring, adeq aru rawuh ring Pure.

Sampai saat ini, komunitas Islam Wetu Telu masih terdapat di kawasan Tanjung dan beberapa desa di kecamatan Bayan seperti Loloan, Anyar, akar-akar, dan Mumbul Sari. Sedangkan dusun-dusunnya memusat di Senaru, Barung Birak, Jeruk Mains, Dasan Tutul, Nangka Rempek, Semokan dan Lendang Jeliti. Bahkan sisa-sisa kepercayaan bahwa suatu benda memiliki fungsi magis masih tersisa sampai sekarang. Masyarakat yang berziarah di Loang Balok Lombok Barat rnisalnya, biasanya menggantungkan harapan pada sesuatu (benda) dengan cara mengikat dan menganyam secara sederhana akar dan pohon beringin. jika harapannya telah tercapai, maka ikatan dan anyaman yang telah dibuat tersebut dibuka kembali, apabila tidak dibuka biasanya dianggap bisa mendatangkan kesialan dalam hidupnya.

Selanjutnya kemunculan Islam Wakru Telu disebabkan oleh hal hal berikut

1. Akibat dari proses Islamisasi yang belum tuntas menjadi penyebab utama munculnya Islam Waktu Telu karena

a. Kedatangan Islam pada saat kuatnya kepercayaan tradisional seperti Animisme, Dinamisme, Antropomorfisme atau yang disebut Buda.

b.  Dominasi ajaran Hindu Majapahit yang retail berakar kuat di masyarakat.

c.       Para muballigh yang menyampaikan ajaran agama Islam terburu meninggalkan tempat tugasnya unmk menyebarkan agama Islam ke tempat/daerah lain seperti Sumbawa, Dompu, dan bima, sernentara para murid yang diserahi tugas melanjutkan pengajaran agama islam belum minas atau belum cukup memiliki wawasan keilmuan tentang Islam yang mendalam.

d.        Keenganan dan ketidakmarnpuan menafsir-kembangkan ajaran Islam dengan lebih sistematis, rasional dan aktual.

2. Metode Dakwah yang sangat toleran dengan komitmen untuk tidak merusak adat istiadat seternpat. Sikap toleran para muballigh terhadap kepercayaan lokal tradisional int menimbulkan persepsi tersendiri di kalangan masyarakat Sasak bahwa sejatinya ajaran Islam tidak berbeda dengan kepercayaan leluhurnya. Bahkan terjadi perundingan antara Sunan Prapen dengan para pemuka di Bayan yang rnelahirkan kesepakatan bahwa masyarakat akan memeluk agama Islam dengan syarat mereka tetap dibiarkan mempertahankan adat budaya nenek moyang beserta segala institusi sosialnya. Hal ini sangatlah beralasan karena Islam khas jawa bawaan Sunan Prapen adalah ajaran Islam bercita rasa sufisme-mistisisme, yang sudah tentu sangat toleran dengan ajaran nenek moyang, yang terpenting adalah secara substantif ajaran tersebut mampu mengantar manusia berhubungan dengan Tuhannya.

3.      Secara umurn kebijakan politik keagamaan para penguasa Hindu-Bali di Lombok memang cukup menghambat proses-proses pembinaan keagamaan ummat islam. Hal-hal tersebut diantaranya adalah; (a) menghalang-halangi ummat Islam yang berangkat naik haji, (b) para tokoh masyarakat dan agama diadu domba melalui pola-pola sistematis seperti wanita Sasak yang kawin dengan laki-laki Hindu dipaksa untuk pindah ke agama suami atau mencarnpuradukkan keyakinannya,

(c) mobilisasi judi di tiap-tiap desa. Kenyataan ini seringkali menimbulkan keranguan dan secara simultan menyuburkan berkembangnya islam Waktu Telu.

4.      Penyebaran agama Hindu juga secara aktif dilangsungkan menyusul semakin pudarnya keislaman pada masyarakat Sasak. Terdapat juga seorang "misionaris" bernama Danhyang Nirartha, seorang pendeta berkasta Brahmana yang aktif berusaha menyebarkan Hindu berdasar mandat dari raja Bali. Dalam praktiknya, ia rnencoba meramu antar unsur dalam ajaran Islam, Hindu, dan aliran kepercayaan tradisional (Boda) di masyarakat Sasak Muslim. Hal inilah yang memicu munculnya ajaran Wetu Telu.

E. TOKOH—TOKOH ISLAM PADA MASA PENJAJAHAN

1. Tuan Guru Haji Urnar (Kelayu)

Beliau terlahir pada tahun 1200 Hijriyah orang tuanya bernarna Kyai Rama yang terkenal karena sangat pemurah terhadap fakir miskin dan para musafir sedangkan neneknya bernama Kyai Nurul Huda yang meninggal sewaktu shalat Shubuh dalam keadaan sujud. TGH Umar sangat tekun memberikan bimbingan pengajian dari satu rumah ke rumah yang lain. Beliau juga rajin mengaji kepada orang alim, cerdas dan shaleh.

TGH Umar Kelayu belajar ilmu-ilmu agama di Pulau Lombok dan di tanah suci Makkah. Secara garis besarnya dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Pada awal mulanya beliau belajar membaca Al Qur'an di Tanjung, kemudian ke Sekarbela pada TGH Mustafa dan Haji Amin di Sesela. Pada usia 14 tahun TGH Umar diperintahkan ke Mekah untuk naik Haji oleh ayahandanya dan berangkat dari Labuhan Haji.

b. Di Mekah beliau berguru pada tentang hadits pada Syekh Mustafa Afifi, Syekh Abdul Karim, dan Syekh Zaenuddin   Sumbawa sedangkan pelajaran sufi diperoleh pada seorang ulama di Madinah.

Setelah 15 tahun ia kembali ke kampung halamannya untuk memberikan berbagai ilmu yang telah diperolehnya dari Mekah. Murid-murid TGH Umar yang termasuk ulama besar banyak dan berasal dari luar Lombok antara lain; Haji Abdul Fatta dari Pontianak, Haji Dana dari Palembang,haji Nawawi dari Lampung dan Haji Abdurrahman dari Kedah Malaysia. Sedangkan yang berasal dari Lombok antara lain; Haji Rais dari sekarbela, Haji Mohammad Saleh dari Bengkel, Haji Abdul Harnid dad Pejeruk .Ampenan, Haji As'ari dari Sekarbela, Haji Abdul Karim dari Praya, Haji Malin dari Pagutan, Haji Syarafuddin dari Pancor dan Haji Badarul islam dari Pancor. Selain TGH umar masih terdapar ulama-ulama terkemuka lainnya dan menjadi sahabatnya antara lain; TGH Sidik dari Karang Kelok, TGH ibrahim dad Tanjung Luar dan TGH Muhammad dai Mertok.

TGH Umar kembali berangkat haji pada tanggal 8 Rabiul Akhir 1349 H. Beliau meninggal dunia di kampung Nispalul dan dimakamkan di Mu'alla Mekah.

 

2.TG Muhammad Saleh (Lopan)

Awal abad ke XX dikenal sebagai era kebangkitan Islam. Seorang ulama Islam yang tidak kurang jasanya dalam pembinaan dan pengembangan Islam di Gumi Sasak adalah TG Muhammad Saleh alias TG Lopan. Behan terkenal sangat wara' dan tak kenal menyerah dalam mengembangkan ajaran Ushul Figh di kalangan ummat Islam. Beliau juga mengembangkan ajaran sufi di Padamara, Sakra, Mesanggoh Gerung, Karang Kelok dan lain-lain.

3.TGH Ali Batu (Sakra)

TGH Ali Batu berasal dari Sakra. Beliau sangat gigih memberikan pengajian-pengajian dan terkenal sangat alirn. Selain beliau aktif dalam memberikan pengajian-pengajian, beliau juga banyak memimpin peperangan-peperangan antara orang-orang Sasak melawan kekuasaan Bali. Beliau meninggal saat peperangan tersebut.

4.TGH Mustafa (Kotaraja)

TGH Mustafa adalah seorang tokoh penyebar agama di masa penjajahan belanda. Pada saat ini banyak terdapat orang-orang Bali yang berdomisili di Kotaraja, tetapi beliau tanpa takut dan pantang mundur tetap memberikan pengajian-pengajian baik yang bersifat khusus maupun umum.

5.TGH Badarld Islam (Pancor)

TGH Badarul islam adalah salah satu tokoh yang sangat kharismatik. Beliau banyak memberikan pengajian-pengajian dan murid-muridnya pun banyak yang berasal dari berbagai tempat di Gumi Sasak.

6.TGH M. Shaleh Hambali (Bengkel)

Nama kecil beliau adalah Muhammad Shaleh. Beliau merupakan putra bungsu dad delapan bersaudara pasangan hambali dan Halirnah. Muhammad Shaleh dilahirkan pada had Jum'at tanggal 7 Rarnadhan bertepatan dengan tahun 1893 Masehi. Kisah hidup beliau hampir mirip dengan kelahiran Rasulullah. Ketika beliau masih dalam kandungan berumur 6 bulan, ayahnya dipanggil menghadap Yang maha Kuasa. Ketika beliau berumur 6 bulan, ibundanya tercinta menyusul ayahandanya dan beliaupun menjadi yatim piatu.

Tuan Guru Haji Muhammad Shaleh Hambali mulai belajar mengaji pada usia 7 tahun. Behan mengaji dengan teratur dan tekun pada salah seorang guru Al Qur'an yang ahli Tajwid bernama Rarnli alias Guru Sumbawa di Desa kelahirannya di Bengkel. Setelah itu behau melanjutkan pendidikannya he Makkah Al Mukarromah sejak tahun 1912 sampai dengan 1921. Semasa di Makkah beliau berguru pada ulama Figih, Tafsir, Tasawuf dan ilmu-ilmu agama yang lainnya. Adapun guru-guru beliau di Makkah adalah (1) Syekh Said Al Yarnani, (2) Syekh Hasan Bin Syekh Said Al Yarnani, (3) Syekh Alawi Maliki Al Makki, (4) Syekh Harridan Al Maghrabi, (5) Syekh Abdusatar Hindi, (6) Syekh Said Al Hadrawi Makki, (7) Syekh Muhammad Arsyad, (8) Syekh Shaleh Bafadal, (9), Syekh Ali Umairah Al Fayumi Al Mishra. Selain belajar pada ulama di Makkah beliau juga belajar pada Ulama Indonesia seperti (1) TGH Umar, Sumbawa, (2) TGH Muhammad Irsyad Sumbawa, (3) TGH Utsman Serawak, (4) KR Muchtar, Bogor, (5) KR Misbah, Banten, (6) TGH Abdul Ghani, Bali, (7) TGH Abdurrahman, Bali, (8) TGH Utsman, Pontianak, (9) TGH Umar, Kelayu, (10) TGH Abdul Hamid Pagutan, (11) TGH Asy'ari, Sekarbela, (12) TGH Yahya, Jerowaru.

Beberapa karya beliau seperti; Tahrre Al Sbelgan Bi Gbayat Al Bayan berisi tentang tauhid, fiqih, tasawuf tulis tahun 1354 Hijriyah dicetak di Surabaya, Bintang Perniagaan (fiqih) climbs tahun 1376 Hijriyah dicetak di Surabaya, Cempaka Mulia Perhiasan Manusia (tulisan tangan) bersumber dari kitab Bidayat Al Hidayah karya Imam Al Ghazali, wasiat Al Mustafa (terjamahan wasial dari Musthafa Rasulullah kepada Sayyidina Ali) berupa tulisan tangan, Mawa'id AI Shabbiyah, kirab hadits ditulis talmn 1364 dicetak di Surabaya, Intan Berlian Perhiasan Laki Perempuan berisi tentang fiqih keluarga di tulis tahun 1371 Hijriyah diterbitkan di Surabaya, Manzalul AI Amrad tentang puasa, Hidnyh tentang tajwid Al Qur'an atau nasehat kepada anak, dan AL lu’lu’ Al mantsur ten tang hadits.

Beberapa kepribadian beliau yang menunjukkan aras kesufiannya dapar dijelaskan sebagaimana penuturan rnurid beliau (TGH Ishaq Hafid): datok adalah orang yang zuhud pada dunia, kekayaaan yang di miliki tidak membuat beliau lupa daratan, sebagian menjadi tanah wakaf milik pesantren. Beliau suka berbelanja membeli barang-baraug kebutuhan bangunan madrasah, pergi ke sawah, semata-mata mengharap Ridha Allah. Tidak tertipu oleh harta benda, harta itu dinafkah untuk kepentingan agama,beliau belanjaka nuntuk fakir miskin, anak yatim piatu,orang tua jompo,santri-santri yang kehabisan bekal,hidup beliau begitu sederhana, qana'ah, bersih, suka memakai minyak. wangi dan memakai pakaian putih.

 

 

 

TGH M.Shaleh Hambali wafat pada hari Sabtu tanggal 15 jumadhil Akhir bertepatan dengan tanggal 7 September 1968 Masehi pukul 07.00 Wita. Sabelum wafat beliau bcrwasiat kepada keluarga dan segenap santrinya, yang terurai dalam sebuah lintasan kalimat indah dan bermakna:

- Peliharalah Persatuan dan Kesatuan diantara sesamamu

- Belajarlah pada guru yang beraliran Ahlussunnah Wal-jama'ah

~Peliharalah Yayasan Perguruan Darul Qur'an Jan usahakanlah agar berkembang lebih baik.

TGH M. Shaleh Hambali tak pernah pergi karena ilmu dan amalnya terus rnengalir dilestarikan oleh generasi berikutnya.

7.TGH  Muhammad Mutawalli Yahya Al Kalimi (jerowaru)

Nama kecil Tuan Guru Haji Muhammad Mutawalli Yahya Al Kalimi adalah Imran. Dilahirkan pada tahun 1921 Masehi di kampung Direk, desa jerowaru kabupaten Lombok Timur. Ayahnya seorang yang diberikan ulama popular Guru Yahya atau Guru Yahye. Julukan guru diberikan kepada ayahandanya karna ia tekun, aktif dan rajin menjadi guru ngaji sedangkan ibundanya bernama inaq Nasar. Pengembaraannya dalam menuntut ilmu berawal dari pendidikan keluarga kemudian disekolahkan di sekolah Belanda Volk School pada Tahun 1927 sampai dengan 1930. Setelah menyelesaikan sekolah rakyat meanjutkan studinya di Kadin Lombok Barat pada salah seorang Tuan Guru yang terkenal akan kesolehan dan keilmuannya yaitu Tuan Guru Haji Lalu Abdul Hafidz.

Imran dikenal sebagai orang yang tekun, saleh dan cerdas. Pada saat belajar di Lombok Barat inilah imran mulai bersentuhan dengan kitab-kitab klasik seperti Nahwu, Sharaf, Tauhid, Ushul Fiqh, Fiqh. Kamudian sekitar tahun 1945, beliau berangkat ke Mekah Al Mukarromah. Setelah beliau pulang dari tanah suci Makkah beliau berkiprah rnelakukan pernbinaan keluarga dalam membangun sumber daya manusia. Beliau juga dianggap mampu mengubah pola pikir masyarakat yang menganut paham animisme, dinamisrne dan pengikut ajaran Islam Waktu Telu yang masih berkembang luas rnasyarakat.

Tuan Guru Haji Muhammad Mutawalli Yahya Al Kalimi juga berkiprah dalam berbagai bidang, terutama dalam pengembangan dunia pendidikan. Seperti membuka majlis taklim, membuka lembaga pendidikan dasar seperti Lembaga Pendidikan Nandlatul Awam, Pondok Pesantren Darul Aitam dll. Dalam bidang sosial beliau juga banyak berkiprah. Bersama masyarakat, beliau juga membuat jalan raya, jembatan, serta membangun panti sosial. Dalam bidang ekonorni beliau juga membangun pasar rakyat, membuka lahan pertanian. Sedangkan dalarn bidang politik beliau juga mengikuti berbagai organisasi politik seperti Masyumi dan Golkar.

Tun Guru Haji Muhammad Mutawalli Yahya Al Kalimi wafat pada tanggal 4 Rajjab 1403 H ( 4 April 1984 M) di Jerowaru, dan di makamkan di dekat kediaman beliau. Lautan manusia berbondong-bondong membanjiri pemakarnan beliau, baik dari kalangan pemerintahan rnaupun para alim ulama serta masyarakat umum.

8.TGK H Muhammad Zaenuddin Abdul Majid (Pancor)

Pada tahun 1937 didirikan sebuah Lembaga Pendidikan Islam bernama Nahdlatul Wathan (NW) yang dikelola secara modern. Pendirinya adalah TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid dari Pancor Lombok Timur. Beliau terkenal dengan nama Maulana Syekh atau Tuan Guru Pancor. Dalam usahanya mengembangkan islam, ternyata beliau juga mendapatkan tantangan dari para ulama Islam lainnya. Para ulama tersebut beranggapan bahwa sistem pendidikan yang beliau kembangkan dianggap bid’ah.

Sampai dengan kedatangan tentara jepang di Gumi Sasak, perkembangan Nahdlatul Wathan sangat lumbar karena mendapatkan halangan dan tantangan dari berbagai pihak. Ulama-ulama tua sangat anti terhadap pengaruh kebudayaan Eropa. Mata pelajaran umum seperti membaca dan menulis aksara latin dianggap sebagai sesuatu yang asing.

TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid dilahirkan di Kampung Bermi Pancor, Lombok Timur pada tanggal 17 Rabi'ul awal  1316 Hijriyah (1898 Masehi). Nama kecil beliau adalah Muhammad saggaf. Nama tersebut diberikan oleh ayahandanya yang bernama TGH Abdul Madjid dan dikenal dengan sebutan "Guru Mu'minah” yang kesohor sebagai orang terpandang, saudagar besar dan kaya, serta pemurah. Guru Mu'minah termasuk seorang pejuang yang sangat pemberani, beliau pernah memimpin pasukan dari pihak Raden Rarang menyerang bala kerajaan Karangasem Bali yang saat itu menguasai pulau Lombok

Situasi perjuangan dan semangat jihad TGH Abdul Madjid pada masa itu mendorong putera "Saggaf" kalak menjadi ulama mujahid yang menegakkan panji-panji Islam di negeri ini. Sejak umur 5 tahun, beliau banyak belajar Al Qur'an dan dasar-dasar agama pada ayahnya. Pada usia 8 tahun beliau masuk Sekolah Rakyat 4 tahun di Selong dan 4 tahun kemudian berhasil menamatkan sekolahnya dengan prestasi yang sangar gemilang. Sebagai santri beliau juga belajar nahwu, sharaf dan ilmu-ilmu keislaman lainnya pada TGH Syarafuddin Pancor dan TGH Abdullah bin Amaq Dulaji.

Untuk mewujudkan cita-cita sang ayah agar putera kesayangannya kelak menjadi ulama besar, maka ayahanda Saggaf mernbawanya ke Tanah Suci Makkah untuk melanjutkan pelajaran dan mendalami ilmu-ilmu keislaman. Begitu mendalam kasih sayang orang tuanya kepada pendidikan beliau, sampai-sarnpai ayahandanya pun ikut bermukirn di Tanah Suci Makkah. Selain belajar di Makkah, beliau juga banyak berguru pada ulama-ulama besar yang berasal dari berbagai pulau di Indonesia seperti jawa, Sumatera dan lain-lain. Setelah tumbuh dewasa TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid banyak Memberikan pengajian-pengajian di seluruh Pulau Lombok, bahkan sampai keluar daerah.

9. TGH Mahsun (Masbagik)

TGH Mahsun dilahirkan di desa Danger, kecamatan Masbagik, Kabupaten Lombok Timur pada tahun 1907 Masehi. Nama kecil beliau adalah Ahmad. Nama tersebut diberikan oleh orang tuanya, H.Mukhtar dan Hj Raodah. Kelahiran putera yang satu ini sangat rnenggembirakan hati kedua orang tuanya, mereka berharap kelak anaknya akan sangat berguna dalam membina dan mengembangkan ajaran agarna Islam.

Sejak masih kecil beliau banyak belajar membaca Al Qur'an dan mempelajari dasar-dasar agama dari orang tuanya. Dan pada usia 8 tahun beliau masuk di Sekolah Rakyat dan melanjutkan pendidikannya ke Ibtidaiyah. Kerasnya didikan orang tua berdampak positif terhadap Ahmad sehingga pada masa kanak-kanak Ahmad telah memperlihatkan keberanian, kejujuran, dan bakat kepernimpinan.

Setelah cukup dewasa ia banyak belajar Tauhid, Fiqih, dan lain-lain, pada Ulama-Ulama ternama seperti TGH Saleh Hambali (Bengkel) dan TGH Badarul Islam (Pancor). Untuk lebih meningkatkan pemahanaannya terhadap ilmu-ilmu agama beliaupun kemudian belajar ke Mekah dan menempuh pendidikan selama 4 tahun terhitung sejak tahun 1936 sampai dengan 1940. Setelah pulang dari Mekah beliau banyak memberikan pembinaan dan pengembangan agama Islam kepada masyarakat hampir di berbagai tempat di seluruh Lombok Timur. Lembaga pendidikan yang berdiri berkat jasa-jasa beliau adalah yayasan Pendidikan Nahdlatul Urnmah (Yadinu) dan Al Ijtihad di Danger. Kedua lembaga pendidikan tersebut sampai sekarang masih cukup eksis.

TGH Mahsun termasuk salah satu tokoh pejuang kemerdekaan yang tergabung dalam pasukan Banteng Hitam. Beliau memimpin Masbagik saat penyerangan Belanda di kota Selong, bergabung dengan pasukan dari Lendang Nangka (H.jumhur Hakim) dan pasukan dari Pringgasela (TGH Muhammad). Pada saat penyerangan tersebut, gugurlah pahlawan-pahlawan yang sangat kita banggakan antara lain ; TGH Muhammad, Sayid Saleh (Pringgasela), TGH Faesal saudara dari TGH Zaenuddin Abdul Majid (Pancor) selain tokoh-tokoh tersebut, masih banyak lagi tokoh-tokoh islam di masa penjajahan seperti TGH Hambali Bengkel, TGH Abdul Manan Bagik Nyaka dan lain-lain. 

Maeningful learning

 Sedangkan menurut Herliani, langkah-langkah yang umumnya dilakukan untuk menerapkan meaningful learning Ausubel atau belajar bermakna adala...