A. GUMI SASAK SEBAGAI PUSAT PERDAGANGAN
Sejak
abad ke 13 Masehi Labuan Lombok banyak dikunjungi para pedagang yang berasal
dari Jawa, Palembang, Banten, Gresik dan Sulawesi. Dengan demikian agama Islam
mulai merasuki Lombok. Mula-mula kedatangan mereka untuk berdagang, kemudian
banyak, diantara mereka yang bertempat tinggal dan menetap, bahkan mendirikan
perkarnpungan-perkampungan. Bukti konkritnya adalah, sampai sekarang masih
dapat kita lihat bekas-bekasnya seperti perkampungan Bugis di Labuan Lombok.
Ketika perdagangan
rempah-rempahnberkembang
pesat pada abad ke-14, di Bali dan Lombok sudah berkembang perdagangan sarung
yang diangkut oleh kapal-kapal data Gresik. Pedagang-pedagang muslim telah
melakukan pelayaran dan perdagangan di sepanjang pantai utara pulau Jawa, selat
Madura, pesisir timur pulau Lombok, pulau-pulau Sunda Kecil hingga ke Maluku.
melalui saluran perdagangan tersebut terbawa pula kitab-kitab kesusateraan yang
bernafaskan agama Islam seperti Roman Yusuf dan Serat Menak. Selain itu juga
mereka membawa Al Qur'an untuk mengaji di tempatnya masing-masing.
Kemudian
terjadilah hubungan yang intens antara para pendatang dengan masyarakat suku
Sasak. Dan hubungan tersebut timbul rasa Saling menghormati dan menghargai.
Sadar atau tidak sadar terjadilah inkulturasi dalam berbagai bidang seperti
budaya dan agama; yang dianggap bail dan cocok diterima, sedangkan yang tidak
cocok ditinggalkan.
B. MASUK DAN BERKEIMBANGNYA AGAMA ISLAM
Agama
Islam masuk di Bumi Selaparang tidak lama setelah runtuhnya kerajaan Majapahit.
Keruntuhan Kerajaan Majapahit sendiri lebih disebabkan oleh beberapa faktor (1)
tindakan Gadjah mada yang memborong segala kekuasaan dan tidak mendidik
kader-kadernya, (2) adanya perang Paregreg sehingga menimbulkan kelemahan di
kalangan pemerintahan di pusatnya, (3) penyerangan Girindrawardana data Medang
Kemulan, (4) masuk dari berkernbangnya Islam di Nusantara. Pada waktu itu sudah
ada pedagang-pedagang muslim yang bermukim data berniaga di Lombok kemudian
mereka menyebarkan agamanya. Bukti yang paling eksplisit menjelaskan kedatangan
Islam di Lombok adalah Babat Lombok yang menjelaskan bahwa Sunan Ratu Giri
memerintahkan raja-raja Jawa Timur dan Palembang untuk menyebarkan Islam ke
Indonesia bagjan utara yaitu (1) Lemboe Mangkurat dengan pasukannya dikirim ke
Banjar, (2) Datu Bandan dikirim ke Selayar, Makassar, Tidore dan Seram, (3)
Raja Pangeran Perapen mengirim anak laki-lakinya umuk berlayar menyiarkan Islam
Ire Bali, Lombok, dan Sumbawa.
Menurut
Faille, setelah pasukan pangeran Prapen mendarat dan turun dari kapal, dengan
sukarela raja Lombok memeluk Agama Islam. Tetapi rakyatnya tetap menolak
sehingga terjadi peperangan yang dimenangkan oleh pihak Islam. Pendapat lain
menyebutkan bahwa awal mulanya Raja Lombok meenolak kedatangan Islam, namun
setelah Pangeran Prapen menjelaskan maksudnya yaitu untuk menyampaikan misi
suci dengan cara damai maka beliaupun diterima dengan baik, tetapi karena
hasutan rakyatnya kernudian Raja Lombok ingkar janji dan mempersiapkan pasukan
sehingga terjadilah peperangan. Dalam peperangan itu, Raja Lombok terdesak dan
melarikan diri. Tetapi malang jayalengkara berhasil menangkap raja, lain dibawa
menghadap ke Pangeran Perapen. Beliau kernudian diampuni dan mengucapkan dua
kalimah syahadat serta dikhitan. Masjid pun segera dibangun sedangkan Pura,
Meru, Babi, dan Sanggah dimusnalikan. Seluruh rakyat diislamkan dan dikhitan.
Kecuali kaum wanira, penghitanannya ditunda atas permintaan Syahbandar Lombok.
Setelah
berhasil mengislamkan Raja Lombok, Sunan Perapen dcngan pasukannya
rnengislamkan kedatuan kedatuan lainnya seperti Pejanggil, Langko, Parwa,
Sarwadadi, Bayan, Sokong dan Sasak (Lombok Utara). Hal ini memiliki bukti-bukti
adanya tinggalan arkeologi seperti mesjid-mesjid tua, makam-makam kuno dan
sebagainya. Dalam mengislamkan kedatuan-kedatuan lainnya, sebagiannya masuk
Islam dengan sukarela sebagian lagi masuk Islam dengan cara kekerasan seperti
di Parigi dan Sarwadadi. Setelah itu beberapa tahun kemudian seluruh Lombok
memeluk agama Islam, kecuali Pajarakan dan Pengantap.
Perkembangan
Islam yang sedemikian cepat ini disebabkan beberapa faktor; (1) Agama Islam
dianggap demokratis, (2) Ajaran Islam bukan merupakan ajaran yang asing lagi
karena sudah lebih dahulu bercampur dengan anasir India, (3) Penyebarannya
berjalan secara damai karma rnelalui perdagangan dan perkawinan, (4) Adanya
kekosongan pegangan rohani rakyat akibat kemunduran Majapahit, (5) Kegiatan
para guru agama, ulama dan wali yang dianggap memberi manfaat yang nyata bagi
kehidupan inasyarakat.
C.
SUNAN PRAPEN
KEMBALI KE LOMBOK
Sesuai
dengin misi yang diemban dari Ratu Sultan Giri, maka setelah mengislamkan
kerajaan-kerajaan lainnya di pulau Lombok. Sunan Prapen melanjutkan penyebaran
Islam ke Sumbawa, Dompu dan Bima. Sepeninggal Sunan Perapen, keadaan agama
Islam di Lombok sangat menyedihkan karena kaum wanitanya rnenolak memeluk agama
yang baru itu. Hal ini sangatlah beralasan karena masih kuatnya pengaruh agama
sebelurnnya dan juga adanya pengaruh kekuasaan Karangasem di Bali sebagai
kerajaan yang kuat dan tangguh.
Akibat
timbulnya permasalahan ini kemudian Sunan Prapen kembali lagi dan mendarat di
Lombok melalui Sugian untuk menyerang penduduk yang masih kafir. Dalam
penyerangan ini penduduk Lombok terpecah rnenjadi 3 (tiga bagian yaitu (1)
kelompok yang melarikan diri dan mengungsi ke gunung-gunung lalu masuk hutan,
mereka dikenal sebagai Orang Boda, (2) Kelompok yang takluk dan masuk Islam
dikenal sebagai Waktu Lima, (3) Kelompok yang hanya takluk di bawah kekuasaan
Sunan Perapen dikenal sebagai Penganut Wetu Telu.
Rencana
Sunan Perapen untuk mengislamkan Pulau Bali terpaksa ditunda karena mendapat
perlawanan dari Dewa Agung Gelgel yaitu Dewa Agung Baru Renggong yang pada
pertengahan abad ke-16 berusaha membendung penyebaran agama Islam yang
dilakukan oleh orang-orang jawa dari arah barat maupun orang-orang Makasar dari
arah Timur. Oleh sebab itu, pengaruh Kerajaan Gelgel di bagian barat pulau
Lombok yang besar sehingga Sunan Prapen mendarat di pantai timur (Labuan
Lombok).
D. PENYEBARAN AGAMA ISLAM DI BEBERAPA
TEMPAT
1.
Penyebaran Islam di Bayan
Sekitar
abad ke-16, penyebaran agama Islam juga masuk melalui pantai utara Bayan dan
dari arah barat sekitar Tanjung. Pembawanya adalah seorang Syeikh dari Arab
Saudi bernama Nurul Rasyid dengan gelar sufinya Gaoz Abdul Razak, makamnya
terletak di kampung Kuranji, sebuah desa pantai di barat daya Lombok. Gaoz
Abdul Razak mendarat di Lombok bagian utara yang disebut dengan Bayan. Ia pun
menetap dan berdakwah di sana. Beliau mengawini Denda Bulan yang melahirkan
se6rang anak bernama Zulkarnaen. Keturunan inilah yang menjadi cikal bakal
raja-raja Selaparang. Kemudian Gaoz Abdul Razak mengawini lagi Denda Islamiyah
yang melahirkan Denda Qomariah yang populer dengan sebutan Dewi Anjani.
Sunan
Pengging, pengikut Sunan Kalijaga datang ke Lombok pada tahun 1640 untuk
menyiarkan agama Islam (sufi). la kawin dengan putri dari kerajaan Parwa
sehinggga meninbulkan kekecewaan raja Goa. Selanjutnya, raja Goa menduduki Lombok
pada tahun 1640.
Sunan
Pengging dikenal sebagai Pangeran Mangkuburni lari ke Bayan. Salah satu bukti
yang dapat dijadikan sebagai kajian tentang awal penyebaran agama Islam adalah
Mesjid Kuno Bayan Bele.
2.
Islam di Pujut
Salah
sant bukti yang paling konkrit penyebaran Islam di daerah Pujut adalah masjid
kuno Rembitan. Bangunan ini merupakan prototipe mesjid-mesjid tua. Secara
kronologis diperkirakan dibangun sekitar abad km 16. Tokoh legendaris penyebar
Agarna Islam di daerah ini adalah wali Nyatok. Mesjid di Rembitan sering
dikaitkan dengan tokoh Wali Nyatok. Dalarn tradisi lisan Wali Nyatok dikenal
sebagai penyebar Agarna Islam di Lombok bagian selatan dan sekitarnya. Narna
lain Wali Nyatok adalah Sayid Ali atau Sanid Abdurrahman. Sayang sekali pada batu
nisannya tidak ada inskripsi yang menyebut nama tokoh tersebut, meskipun dari
segi tipologi nisan tersebut tergolong tua.
Salah
sani tokoh legendaris lainnva dalam penyebaran agama Islam adalah Pangeran
Sangupati. Beberapa pendapat tentang Pangeran Sangupati sebagai berikut:
1.
Pangeran Sangupati adalah putra Selaparang yang dianggap Waliyullah, ia
mengarang kitab
jatistiswara,
Prembonan, Lampanan wayang, Tasawuf dan Fiqh.
2.
Pangeran
Sangupati berasal dari Jawa yang sengaja berkelana untuk menyebarkan Agarna
Islam dan memiliki nama asli di jawa "Aji Datu Semu", sedangkan, di
Sumbawa dikenal dengan nama Tuan Semeru.
3. Pangeran Sangupati adalah tokoh agama
Hindu yang menyebarkan agama Hindu di kalangan ummat Islam karena Islam yang
dianut oleh para penduduk masih sangat lemah, maka beliau menyebarkan agama
Islam Waktu Telu (Wein Telu) suatu bentuk peralihan dari agama Boda tua ke
agama Waktu Lima dart dia dikenal dengan nama Pedanda Wau Rauh.
Selain
tokoh-tokoh tersebut ada juga yang disebut-sebut sebagai penyebar agama Islam
di Lombok yaitu Al-Fadal.
E. MUNCULNYA ISLAM WETU TELU
Islam
Waktu Telu adalah sistem kepercayaan sinkretik hasil saling silang ajaran
Islam, Hindu, dan unsur Animisme dan
Antropomorfisme (Buda). Komunitas Islam Waktu
Telu adalah segolongan minoritas dari etnis Sasak penganut sistem kepercayaan
sinkretik hasil saling silang ajaran tersebut. Tawalinuddin Harts,2002,
menyatakan adanya sinkretisme semacarn itu tercermin pula pada sejumlah lontar
yang ditemukan di Lombok. Banyak diantara lontar tersebut yang dimulai dengan
lafal "Bismillah" tapi selanjutnya memberikan ajaran yang jelas-jelas
berdasarkan filsafat Hindu dan Budha. Oleh karena itu, mungkin ada benarnya
juga ketikaVogellaesang mengatakan bahwa Islam Waktu Telu adalah Agama
Majapahit (Hindu dan Budha) yang sudah dibalut dengan ajaran Islam.
Sinkretisme
ini juga terjadi pada orang-orang Bali yang tinggal di Lombok, baik dalam hal
bahasa, berpakaian balikan dalam kegiatan keagamaan. Dalam sebuah upcara di
Pura (odalan) misalnya, terdapat tembang "Turun Taun" yang
biasanya ditembangkan oleh orang-orang tua etnis Bali dilombok seperfi: "Miaq
sunggar siq galih belimbing, lolon waru sedin langan. Silaq lumbar kaji
ngiring, adeq aru rawuh ring Pure.
Sampai
saat ini, komunitas Islam Wetu Telu masih terdapat di kawasan Tanjung dan
beberapa desa di kecamatan Bayan seperti Loloan, Anyar, akar-akar, dan Mumbul
Sari. Sedangkan dusun-dusunnya memusat di Senaru, Barung Birak, Jeruk Mains,
Dasan Tutul, Nangka Rempek, Semokan dan Lendang Jeliti. Bahkan sisa-sisa
kepercayaan bahwa suatu benda memiliki fungsi magis masih tersisa sampai
sekarang. Masyarakat yang berziarah di Loang Balok Lombok Barat rnisalnya,
biasanya menggantungkan harapan pada sesuatu (benda) dengan cara mengikat dan
menganyam secara sederhana akar dan pohon beringin. jika harapannya telah
tercapai, maka ikatan dan anyaman yang telah dibuat tersebut dibuka kembali,
apabila tidak dibuka biasanya dianggap bisa mendatangkan kesialan dalam
hidupnya.
Selanjutnya kemunculan Islam Wakru Telu
disebabkan oleh hal hal berikut
1.
Akibat dari proses Islamisasi yang belum tuntas menjadi penyebab utama
munculnya Islam Waktu Telu karena
a.
Kedatangan Islam pada saat kuatnya kepercayaan tradisional seperti Animisme,
Dinamisme, Antropomorfisme atau yang disebut Buda.
b.
Dominasi ajaran Hindu Majapahit yang retail berakar kuat di masyarakat.
c. Para muballigh yang menyampaikan ajaran
agama Islam terburu meninggalkan tempat tugasnya unmk menyebarkan agama Islam
ke tempat/daerah lain seperti Sumbawa, Dompu, dan bima, sernentara para murid
yang diserahi tugas melanjutkan pengajaran agama islam belum minas atau belum
cukup memiliki wawasan keilmuan tentang Islam yang mendalam.
d.
Keenganan
dan ketidakmarnpuan menafsir-kembangkan ajaran Islam dengan lebih sistematis,
rasional dan aktual.
2.
Metode Dakwah yang sangat toleran dengan komitmen untuk tidak merusak adat
istiadat seternpat. Sikap toleran para muballigh terhadap kepercayaan lokal
tradisional int menimbulkan persepsi tersendiri di kalangan masyarakat Sasak
bahwa sejatinya ajaran Islam tidak berbeda dengan kepercayaan leluhurnya.
Bahkan terjadi perundingan antara Sunan Prapen dengan para pemuka di Bayan yang
rnelahirkan kesepakatan bahwa masyarakat akan memeluk agama Islam dengan syarat
mereka tetap dibiarkan mempertahankan adat budaya nenek moyang beserta segala
institusi sosialnya. Hal ini sangatlah beralasan karena Islam khas jawa bawaan
Sunan Prapen adalah ajaran Islam bercita rasa sufisme-mistisisme, yang sudah
tentu sangat toleran dengan ajaran nenek moyang, yang terpenting adalah secara
substantif ajaran tersebut mampu mengantar manusia berhubungan dengan Tuhannya.
3.
Secara
umurn kebijakan politik keagamaan para penguasa Hindu-Bali di Lombok memang
cukup menghambat proses-proses pembinaan keagamaan ummat islam. Hal-hal
tersebut diantaranya adalah; (a) menghalang-halangi ummat Islam yang berangkat
naik haji, (b) para tokoh masyarakat dan agama diadu domba melalui pola-pola
sistematis seperti wanita Sasak yang kawin dengan laki-laki Hindu dipaksa untuk
pindah ke agama suami atau mencarnpuradukkan keyakinannya,
(c) mobilisasi judi di tiap-tiap desa.
Kenyataan ini seringkali menimbulkan keranguan dan secara simultan menyuburkan
berkembangnya islam Waktu Telu.
4.
Penyebaran
agama Hindu juga secara aktif dilangsungkan menyusul semakin pudarnya keislaman
pada masyarakat Sasak. Terdapat juga seorang "misionaris" bernama
Danhyang Nirartha, seorang pendeta berkasta Brahmana yang aktif berusaha
menyebarkan Hindu berdasar mandat dari raja Bali. Dalam praktiknya, ia rnencoba
meramu antar unsur dalam ajaran Islam, Hindu, dan aliran kepercayaan
tradisional (Boda) di masyarakat Sasak Muslim. Hal inilah yang memicu munculnya
ajaran Wetu Telu.
E. TOKOH—TOKOH ISLAM PADA MASA PENJAJAHAN
1. Tuan Guru Haji Urnar (Kelayu)
Beliau
terlahir pada tahun 1200 Hijriyah orang tuanya bernarna Kyai Rama yang terkenal
karena sangat pemurah terhadap fakir miskin dan para musafir sedangkan neneknya
bernama Kyai Nurul Huda yang meninggal sewaktu shalat Shubuh dalam keadaan
sujud. TGH Umar sangat tekun memberikan bimbingan pengajian dari satu rumah ke
rumah yang lain. Beliau juga rajin mengaji kepada orang alim, cerdas dan
shaleh.
TGH
Umar Kelayu belajar ilmu-ilmu agama di Pulau Lombok dan di tanah suci Makkah.
Secara garis besarnya dapat dijelaskan sebagai berikut:
a.
Pada awal mulanya beliau belajar membaca Al Qur'an di Tanjung, kemudian ke
Sekarbela pada TGH Mustafa dan Haji Amin di Sesela. Pada usia 14 tahun TGH Umar
diperintahkan ke Mekah untuk naik Haji oleh ayahandanya dan berangkat dari
Labuhan Haji.
b.
Di Mekah beliau berguru pada tentang hadits pada Syekh Mustafa Afifi, Syekh
Abdul Karim, dan Syekh Zaenuddin
Sumbawa sedangkan pelajaran sufi diperoleh pada seorang ulama di
Madinah.
Setelah 15 tahun ia kembali ke kampung halamannya untuk memberikan
berbagai ilmu yang telah diperolehnya dari Mekah. Murid-murid TGH Umar yang
termasuk ulama besar banyak dan berasal dari luar Lombok antara lain; Haji
Abdul Fatta dari Pontianak, Haji Dana dari Palembang,haji Nawawi dari Lampung
dan Haji Abdurrahman dari Kedah Malaysia. Sedangkan yang berasal dari Lombok
antara lain; Haji Rais dari sekarbela, Haji Mohammad Saleh dari Bengkel, Haji
Abdul Harnid dad Pejeruk .Ampenan, Haji As'ari dari Sekarbela, Haji Abdul Karim
dari Praya, Haji Malin dari Pagutan, Haji Syarafuddin dari Pancor dan Haji
Badarul islam dari Pancor. Selain TGH
umar masih terdapar ulama-ulama terkemuka lainnya dan menjadi
sahabatnya antara lain; TGH Sidik dari Karang Kelok, TGH ibrahim dad Tanjung
Luar dan TGH Muhammad dai Mertok.
TGH
Umar kembali berangkat haji pada tanggal 8 Rabiul Akhir 1349 H. Beliau
meninggal dunia di kampung Nispalul dan dimakamkan di Mu'alla Mekah.
2.TG Muhammad Saleh (Lopan)
Awal abad ke XX dikenal sebagai era kebangkitan Islam. Seorang ulama
Islam yang tidak kurang jasanya dalam pembinaan dan pengembangan Islam di Gumi
Sasak adalah TG Muhammad Saleh alias TG Lopan. Behan terkenal sangat wara' dan
tak kenal menyerah dalam mengembangkan ajaran Ushul Figh di kalangan ummat
Islam. Beliau juga mengembangkan ajaran sufi di Padamara, Sakra, Mesanggoh
Gerung, Karang Kelok dan lain-lain.
3.TGH Ali Batu (Sakra)
TGH Ali Batu
berasal dari Sakra. Beliau sangat gigih memberikan pengajian-pengajian dan
terkenal sangat alirn. Selain beliau aktif dalam memberikan
pengajian-pengajian, beliau juga banyak memimpin peperangan-peperangan antara
orang-orang Sasak melawan kekuasaan Bali. Beliau meninggal saat peperangan
tersebut.
4.TGH Mustafa (Kotaraja)
TGH
Mustafa adalah seorang tokoh penyebar agama di masa penjajahan belanda. Pada
saat ini banyak terdapat orang-orang Bali yang berdomisili di Kotaraja, tetapi
beliau tanpa takut dan pantang mundur tetap memberikan pengajian-pengajian baik
yang bersifat khusus maupun umum.
5.TGH Badarld Islam (Pancor)
TGH Badarul islam adalah salah satu tokoh yang sangat kharismatik.
Beliau banyak memberikan pengajian-pengajian dan murid-muridnya pun banyak yang
berasal dari berbagai tempat di Gumi Sasak.
6.TGH M. Shaleh Hambali (Bengkel)
Nama
kecil beliau adalah Muhammad
Shaleh. Beliau merupakan putra bungsu dad delapan bersaudara pasangan
hambali dan Halirnah. Muhammad Shaleh dilahirkan pada had Jum'at tanggal 7
Rarnadhan bertepatan dengan tahun 1893 Masehi. Kisah hidup beliau hampir
mirip dengan kelahiran Rasulullah. Ketika beliau masih dalam kandungan berumur
6 bulan, ayahnya dipanggil menghadap Yang maha Kuasa. Ketika beliau berumur
6 bulan, ibundanya tercinta menyusul ayahandanya dan beliaupun menjadi yatim
piatu.
Tuan
Guru Haji Muhammad Shaleh Hambali mulai belajar mengaji pada usia 7 tahun. Behan mengaji
dengan teratur dan tekun pada salah seorang guru Al Qur'an yang ahli Tajwid
bernama Rarnli alias Guru Sumbawa di Desa kelahirannya di Bengkel. Setelah itu
behau melanjutkan pendidikannya he Makkah Al Mukarromah sejak tahun 1912 sampai
dengan 1921. Semasa di Makkah beliau berguru pada ulama Figih, Tafsir,
Tasawuf dan ilmu-ilmu agama yang lainnya. Adapun guru-guru beliau di Makkah
adalah (1) Syekh Said Al Yarnani, (2) Syekh Hasan Bin Syekh Said Al Yarnani,
(3) Syekh Alawi Maliki Al Makki, (4) Syekh Harridan Al Maghrabi, (5) Syekh
Abdusatar Hindi, (6) Syekh Said Al Hadrawi Makki, (7) Syekh Muhammad Arsyad,
(8) Syekh Shaleh Bafadal, (9), Syekh Ali Umairah Al Fayumi Al Mishra. Selain
belajar pada ulama di Makkah beliau juga belajar pada Ulama Indonesia seperti
(1) TGH Umar, Sumbawa, (2) TGH Muhammad Irsyad Sumbawa, (3) TGH Utsman Serawak,
(4) KR Muchtar, Bogor, (5) KR Misbah, Banten, (6) TGH Abdul Ghani, Bali, (7)
TGH Abdurrahman, Bali, (8) TGH Utsman, Pontianak, (9) TGH Umar, Kelayu, (10)
TGH Abdul Hamid Pagutan, (11) TGH Asy'ari, Sekarbela, (12) TGH Yahya, Jerowaru.
Beberapa
karya beliau seperti;
Tahrre Al Sbelgan Bi Gbayat Al Bayan berisi tentang tauhid, fiqih,
tasawuf tulis tahun 1354 Hijriyah dicetak di Surabaya, Bintang
Perniagaan (fiqih) climbs tahun 1376 Hijriyah dicetak di Surabaya, Cempaka
Mulia Perhiasan Manusia (tulisan tangan) bersumber dari kitab Bidayat Al
Hidayah karya Imam Al Ghazali, wasiat Al Mustafa (terjamahan wasial dari
Musthafa Rasulullah kepada Sayyidina Ali) berupa tulisan tangan, Mawa'id AI
Shabbiyah, kirab hadits ditulis talmn 1364 dicetak di Surabaya, Intan
Berlian Perhiasan Laki Perempuan berisi tentang fiqih keluarga di tulis
tahun 1371 Hijriyah diterbitkan di Surabaya, Manzalul AI Amrad tentang
puasa, Hidnyh tentang tajwid Al Qur'an atau nasehat kepada anak, dan AL
lu’lu’ Al mantsur ten tang hadits.
Beberapa
kepribadian beliau yang menunjukkan aras kesufiannya dapar dijelaskan
sebagaimana penuturan rnurid beliau (TGH Ishaq Hafid): datok adalah orang
yang zuhud pada dunia, kekayaaan yang di
miliki tidak membuat beliau lupa
daratan, sebagian menjadi tanah wakaf milik pesantren. Beliau suka berbelanja
membeli barang-baraug kebutuhan bangunan madrasah, pergi ke sawah, semata-mata
mengharap Ridha Allah. Tidak tertipu oleh harta benda, harta itu dinafkah
untuk kepentingan agama,beliau belanjaka nuntuk fakir miskin, anak yatim
piatu,orang tua jompo,santri-santri yang kehabisan bekal,hidup beliau begitu
sederhana, qana'ah, bersih, suka memakai minyak. wangi dan memakai pakaian
putih.
TGH
M.Shaleh Hambali wafat pada hari Sabtu tanggal 15 jumadhil Akhir bertepatan
dengan tanggal 7 September 1968 Masehi pukul 07.00 Wita. Sabelum wafat beliau
bcrwasiat kepada keluarga dan segenap santrinya, yang terurai dalam sebuah
lintasan kalimat indah dan bermakna:
-
Peliharalah Persatuan dan Kesatuan diantara sesamamu
-
Belajarlah pada guru yang beraliran Ahlussunnah Wal-jama'ah
~Peliharalah
Yayasan Perguruan Darul Qur'an Jan usahakanlah agar berkembang lebih baik.
TGH
M. Shaleh Hambali tak pernah pergi karena ilmu dan amalnya terus rnengalir
dilestarikan oleh generasi berikutnya.
7.TGH
Muhammad Mutawalli Yahya Al Kalimi (jerowaru)
Nama
kecil Tuan Guru Haji Muhammad Mutawalli Yahya Al Kalimi adalah Imran.
Dilahirkan pada tahun 1921 Masehi di kampung Direk, desa jerowaru kabupaten
Lombok Timur. Ayahnya seorang yang diberikan ulama popular Guru Yahya atau Guru
Yahye. Julukan guru diberikan kepada ayahandanya karna ia tekun, aktif dan
rajin menjadi guru ngaji sedangkan ibundanya bernama inaq Nasar.
Pengembaraannya dalam menuntut ilmu berawal dari pendidikan keluarga kemudian
disekolahkan di sekolah Belanda Volk School pada Tahun 1927 sampai
dengan 1930. Setelah menyelesaikan sekolah rakyat meanjutkan studinya di Kadin
Lombok Barat pada salah seorang Tuan Guru yang terkenal akan kesolehan dan
keilmuannya yaitu Tuan Guru Haji Lalu Abdul Hafidz.
Imran
dikenal sebagai orang yang tekun, saleh dan cerdas. Pada saat belajar di Lombok
Barat inilah imran mulai bersentuhan dengan kitab-kitab klasik seperti Nahwu,
Sharaf, Tauhid, Ushul Fiqh, Fiqh. Kamudian sekitar tahun 1945, beliau berangkat
ke Mekah Al Mukarromah. Setelah beliau pulang dari tanah suci Makkah beliau
berkiprah rnelakukan pernbinaan keluarga dalam membangun sumber daya manusia.
Beliau juga dianggap mampu mengubah pola pikir masyarakat yang menganut paham
animisme, dinamisrne dan pengikut ajaran Islam Waktu Telu yang masih berkembang
luas rnasyarakat.
Tuan
Guru Haji Muhammad Mutawalli Yahya Al Kalimi juga berkiprah dalam berbagai
bidang, terutama dalam pengembangan dunia pendidikan. Seperti membuka majlis
taklim, membuka lembaga pendidikan dasar seperti Lembaga Pendidikan Nandlatul
Awam, Pondok Pesantren Darul Aitam dll. Dalam bidang sosial beliau juga
banyak berkiprah. Bersama masyarakat, beliau juga membuat jalan raya, jembatan,
serta membangun panti sosial. Dalam bidang ekonorni beliau juga membangun pasar
rakyat, membuka lahan pertanian. Sedangkan dalarn bidang politik beliau juga
mengikuti berbagai organisasi politik seperti Masyumi dan Golkar.
Tun
Guru Haji Muhammad Mutawalli Yahya Al Kalimi wafat pada tanggal 4 Rajjab 1403 H
( 4 April 1984 M) di Jerowaru, dan di makamkan di dekat kediaman beliau. Lautan
manusia berbondong-bondong membanjiri pemakarnan beliau, baik dari kalangan
pemerintahan rnaupun para alim ulama serta masyarakat umum.
8.TGK H
Muhammad Zaenuddin Abdul Majid (Pancor)
Pada
tahun 1937 didirikan sebuah Lembaga Pendidikan Islam bernama Nahdlatul Wathan
(NW) yang dikelola secara modern. Pendirinya adalah TGKH. Muhammad Zainuddin
Abdul Majid dari Pancor Lombok Timur. Beliau terkenal dengan nama Maulana Syekh
atau Tuan Guru Pancor. Dalam usahanya mengembangkan islam, ternyata beliau juga
mendapatkan tantangan dari para ulama Islam lainnya. Para ulama tersebut
beranggapan bahwa sistem pendidikan yang beliau kembangkan dianggap bid’ah.
Sampai
dengan kedatangan tentara jepang di Gumi Sasak, perkembangan Nahdlatul Wathan
sangat lumbar karena mendapatkan halangan dan tantangan dari berbagai pihak.
Ulama-ulama tua sangat anti terhadap pengaruh kebudayaan Eropa. Mata pelajaran umum
seperti membaca dan menulis aksara latin dianggap sebagai sesuatu yang asing.
TGKH
Muhammad Zainuddin Abdul Majid dilahirkan di Kampung Bermi Pancor, Lombok Timur pada
tanggal 17 Rabi'ul awal 1316
Hijriyah (1898 Masehi). Nama kecil beliau adalah Muhammad saggaf. Nama tersebut
diberikan oleh ayahandanya yang bernama TGH Abdul Madjid dan dikenal dengan
sebutan "Guru Mu'minah” yang kesohor sebagai orang terpandang, saudagar
besar dan kaya, serta pemurah. Guru Mu'minah termasuk seorang pejuang yang
sangat pemberani, beliau pernah memimpin pasukan dari pihak Raden Rarang
menyerang bala kerajaan Karangasem Bali yang saat itu menguasai pulau
Lombok
Situasi
perjuangan dan semangat jihad TGH Abdul Madjid pada masa itu mendorong putera
"Saggaf" kalak menjadi ulama mujahid yang menegakkan panji-panji
Islam di negeri ini. Sejak umur 5 tahun, beliau banyak belajar Al Qur'an dan
dasar-dasar agama pada ayahnya. Pada usia 8 tahun beliau masuk Sekolah Rakyat 4
tahun di Selong dan 4 tahun kemudian berhasil menamatkan sekolahnya dengan
prestasi yang sangar gemilang. Sebagai santri beliau juga belajar nahwu, sharaf
dan ilmu-ilmu keislaman lainnya pada TGH Syarafuddin Pancor dan TGH Abdullah bin
Amaq Dulaji.
Untuk
mewujudkan cita-cita sang ayah agar putera kesayangannya kelak menjadi ulama
besar, maka ayahanda Saggaf mernbawanya ke Tanah Suci Makkah untuk melanjutkan
pelajaran dan mendalami ilmu-ilmu keislaman. Begitu mendalam kasih sayang orang
tuanya kepada pendidikan beliau, sampai-sarnpai ayahandanya pun ikut bermukirn
di Tanah Suci Makkah. Selain belajar di Makkah, beliau juga banyak berguru pada
ulama-ulama besar yang berasal dari berbagai pulau di Indonesia seperti jawa,
Sumatera dan lain-lain. Setelah tumbuh dewasa TGKH Muhammad Zainuddin
Abdul Majid banyak Memberikan pengajian-pengajian di seluruh Pulau Lombok,
bahkan sampai keluar daerah.
9. TGH Mahsun (Masbagik)
TGH
Mahsun dilahirkan di desa Danger, kecamatan Masbagik, Kabupaten Lombok Timur
pada tahun 1907 Masehi. Nama kecil beliau adalah Ahmad. Nama tersebut diberikan
oleh orang tuanya, H.Mukhtar dan Hj Raodah. Kelahiran putera yang satu ini
sangat rnenggembirakan hati kedua orang tuanya, mereka berharap kelak anaknya
akan sangat berguna dalam membina dan mengembangkan ajaran agarna Islam.
Sejak
masih kecil beliau banyak belajar membaca Al Qur'an dan mempelajari
dasar-dasar agama dari orang tuanya. Dan pada usia 8 tahun beliau masuk di
Sekolah Rakyat dan melanjutkan pendidikannya ke Ibtidaiyah. Kerasnya didikan
orang tua berdampak positif terhadap Ahmad sehingga pada masa kanak-kanak Ahmad
telah memperlihatkan keberanian, kejujuran, dan bakat kepernimpinan.
Setelah
cukup dewasa ia banyak belajar Tauhid, Fiqih, dan lain-lain, pada Ulama-Ulama
ternama seperti TGH Saleh Hambali (Bengkel) dan TGH Badarul Islam (Pancor).
Untuk lebih meningkatkan pemahanaannya terhadap ilmu-ilmu agama beliaupun
kemudian belajar ke Mekah dan menempuh pendidikan selama 4 tahun terhitung
sejak tahun 1936 sampai dengan 1940. Setelah pulang dari Mekah beliau banyak
memberikan pembinaan dan pengembangan agama Islam kepada masyarakat hampir di
berbagai tempat di seluruh Lombok Timur. Lembaga pendidikan yang berdiri
berkat jasa-jasa beliau adalah yayasan Pendidikan Nahdlatul Urnmah (Yadinu) dan
Al Ijtihad di Danger. Kedua lembaga pendidikan tersebut sampai sekarang masih
cukup eksis.
TGH Mahsun termasuk salah satu tokoh pejuang kemerdekaan yang tergabung dalam pasukan Banteng Hitam. Beliau memimpin Masbagik saat penyerangan Belanda di kota Selong, bergabung dengan pasukan dari Lendang Nangka (H.jumhur Hakim) dan pasukan dari Pringgasela (TGH Muhammad). Pada saat penyerangan tersebut, gugurlah pahlawan-pahlawan yang sangat kita banggakan antara lain ; TGH Muhammad, Sayid Saleh (Pringgasela), TGH Faesal saudara dari TGH Zaenuddin Abdul Majid (Pancor) selain tokoh-tokoh tersebut, masih banyak lagi tokoh-tokoh islam di masa penjajahan seperti TGH Hambali Bengkel, TGH Abdul Manan Bagik Nyaka dan lain-lain.